Nama
: Hasto Widodo Wicaksono
NIM
: 1801121284
Prodi/Kelas
: Bahasa Inggris/C
A.
Pengertian
Filsafat
Pengertian
filsafat dalam sejarah perkembangan pemikiran kefilsafatan antara satu ahli filsafat
dan ahli filsafat lainnya selalu berbeda serta hampir sama banyaknya dengan
ahli filsafat itu sendiri. Pengertian filsafat dapat ditinjau dari dua segi
yakni secara etimologi dan terminologi.
1. Filsafat
secara etimologi
Kata
filsafat dalam bahasa Arab dikenal denga istilah Falsafah dan dalam
bahasa Inggris dikenal istilah Phylosophy serta dalam bahasa Yunani
dengan istilah Philosophia. Kata Philosophia terdiri atas kata philein
yang berarti cinta (love) dan sophia yang berarti kebijasanaan
(wisdom) sehingga secara etimologis istilah filsafat berarti cinta kebijaksanaan
(love of wisdom) dalam arti yang sedalam-dalamnya. Dengan demikian, seorang
filsuf adalah pencinta atau pencari kebijaksanaan. Kata filsafat pertama kali digunakan
oleh Phytagoras (582−486 SM). Arti filsafat pada waktu itu,
kemudian filsafat itu diperjelas seperti yang banyak dipakai sekarang ini dan
juga digunakan oleh Socrates (470−390 SM) dan filsuf lainnya.
2. Filsafat
secara terminologi
Secara
terminologi adalah arti yang dikandung oleh istilah filsafat. Hal ini disebabkan
batasan dari filsafat itu sendiri banyak maka sebagai gambaran diperkenalkan
beberapa batasan sebagai berikut.
a. Plato,
berpendapat bahwa filsafat adalah pengetahuan yang mencoba untuk mencapai
pengetahuan tentang kebenaran yang asli karena kebenaran itu mutlak di tangan
Tuhan.
b. Aristoles, berpendapat bahwa filsafat
adalah ilmu (pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang di dalamnya terkandung
ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, dan estetika.
c. Prof. Dr. Fuad Hasan, filsafat adalah
suatu ikhtiar untuk berpikir radikal, artinya mulai dari radiksnya suatu
gejala, dari akaranya suatu hal yang hendak dipermasalahkan.
d. Immanuel Kant, filsuf barat dengan
gelar raksasa pemikir Eropa mengatakan filsafat adalah ilmu pokok dan pangkal
segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan:
1) apa dapat kita ketahui, dijawab oleh
metafisika?
2) apa yang boleh kita kerjakan, dijawab oleh
etika?
3) apa yang dinamakan manusia, dijawab oleh
antropologi?
4) sampai di mana harapan kita, dijawab oleh
agama?
e. Rene
Descartes, mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu
(pengetahuan) tentang hakikat bagaimana alam maujud yang sebenarnya.
Filsafat
adalah feeling (lave) in wisdom. Mencintai mencari menuju penemuan
kebijaksanaan atau kearifan. Mencintai kearifan dengan melakukan proses dalam
arti pencarian kearifan sekaligus produknya.
a) Di
dalam proses pencarian itu, yang dicari adalah kebenaran-kebenaran prinsip yang
bersifat general
b) Prinsip
yang bersifat general ini harus dapat dipakai untuk menjelaskan segala sesuatu
kajian atas objek filsafat.
B.
Ciri
– Ciri
Pengertian filsafat tersebut
memberikan pemahaman bahwa filsafat adalah suatu prinsip atau asas keilmuan
untuk menelusuri suatu kebenaran objek dengan modal berpikir secara radikal. Objeknya
mengikuti realitas empiris dikaji secara filsafat untuk menelusuri hakikat kebenarannya
suatu entitas menggunakan metode yang disebut metode ilmiah (kebenaran ilmiah).
Ciri-ciri filsafat yaitu menyeluruh, mendasar, dan spekulatif. Berikut merupakan
ciri berfilsafat :
a) Menyeluruh,
artinya pemikiran yang luas karena tidak membatasi diri dan tidak hanya
ditinjau dari satu sudut pandang tertentu. Pemikiran kefilsafatan ingin mengetahui
hubungan antara ilmu yang satu dan ilmuilmu lainnya, hubungan ilmu dan moral,
seni, serta tujuan hidup
b) Mendasar,
artinya pemikiran yang dalam sampai pada hasil yang fundamental atau esensial
objek yang dipelajarinya sehingga dapat dijadikan dasar berpijak bagi segenap
nilai dan keilmuan. Filsafat tidak hanya berhenti pada kulit kulitnya (periferis)
saja, tetapi sampai menembus ke kedalamannya (hakikat).
c) Spekulatif, artinya hasil pemikiran yang
diperoleh dijadikan dasar bagi pemikiran selanjutnya. Hasil pemikiran
berfilsafat selalu dimaksudkan sebagai dasar untuk menelusuri bidang-bidang
pengetahuan yang baru. Namun demikian, tidaklah berarti hasil pemikiran
kefilsafatan tersebut meragukan kebenarannya karena tidak pernah tuntas.
Ciri-ciri berpikir secara kefilsafatan
menurut Ali Mudhofir sebagai berikut.
1. Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara radikal.
Radikal berasal dari bahasa Yunani, Radix artinya akar. Berpikir secara
radikal adalah berpikir sampai ke akar akarnya, berpikir sampai pada hakikat,
esensi, atau sampai ke substansi yang dipikirkan. Manusia yang berfilsafat dengan
akalnya berusaha untuk menangkap pengetahuan hakiki, yaitu pengetahuan yang
mendasari segala pengetahuan indrawi.
2. Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara universal
(umum). Berpikir secara universal adalah berpikir tentang hal-hal serta
proses-proses yang bersifat umum, dalam arti tidak memikirkan hal-hal yang
parsial. Filsafat bersangkutan dengan pengalaman umum dari umat manusia. Dengan
jalan penelusuran yang radikal itu filsafat berusaha sampai pada berbagai
kesimpulan yang universal (umum)
3. Berpikir
secara kefilsafatan dicirikan secara konseptual. Konsep di sini adalah
hasil generalisasi dari pengalaman tentang hal-hal serta prosesproses
individual. Dengan ciri yang konseptual ini, berpikir secara kefilsafatan
melampaui batas pengalaman hidup sehari-hari.
4. Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara koheren
dan konsisten. Koheren artinya sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir
(logis). Konsisten artinya tidak mengandung kontradiksi.
5. Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara sistematik.
Sistematik berasal dari kata sistem. Sistem di sini adalah kebulatan dari
sejumlah unsur yang saling berhubungan menurut tata pengaturan untuk mencapai
sesuatu maksud atau menunaikan sesuatu peranan tertentu. Dalam mengemukakan
jawaban terhadap sesuatu masalah. Pendapatpendapat yang merupakan uraian
kefilsafatan harus saling berhubungan secara teratur dan terkandung adanya
maksud atau tujuan tertentu.
6. Berpikir secara kefilsafatan dicirikan secara komprehensif.
Komprehensif adalah mencakup secara menyeluruh. Berpikir secara kefilsafatan.
Berpikir secara kefilsafatan berusaha untuk menjelaskan alam semesta secara
keseluruhan.
7. Berpikir
secara kefilsafatan dicirikan secara bebas. Sampai batas-batas yang luas
maka setiap filsafat boleh dikatakan merupakan suatu hasil dari pemikiran yang bebas.
Bebas dari segala prasangka sosial, historis, kultural, ataupun religius.
8. Berpikir secara kefilsafatan dicirikan dengan
pemikiran yang bertanggung jawab. Seseorang yang berfilsafat adalah
orang yang berpikir sambil bertanggung jawab Pertanggungjawaban yang pertama adalah
terhadap hati nuraninya sendiri. Di sini tampaklah hubungan antara kebebasan
berpikir dalam filsafat dan etika yang melandasinya. Fase berikutnya adalah
cara bagaimana ia merumuskan berbagai pemikirannya agar dapat dikomunikasikan
pada orang lain.
. Dr. Adian Husaini,
Filsafat Ilmu, Depok : GEMA INSANI, 2013, hlm. 13-15
Good job
BalasHapus